Nama: jeanne ellyawati E-Mail: jeanny@mail.uajy.ac.id Saya asal dari DIY dan saya 44 [ w ]. Fakultas saya: Fakultas Ekonomi Kampus saya: Universitas Atma Jaya Yogyakarta Di daerah: Yogyakarta Propinsi: DIY Homepage Kampus: http://mail.uajy.ac.id Saran: Seperti dikatakan oleh ibu Mari Pengestu di forum diskusi Atma Jaya tgl 14 Juli lalu, bahwa tenaga kerja Indonesia daya saingnya rendah. Memang benar, menurut saya kualitas pendidikan di Indonesia memang rendah, sehingga mengakibatkan kualitas tenaga kerja juga rendah.
Untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, kita harus banyak belajar dari negara lain. Saya kira harus dimulai dari pendidikan sekolah dasar. Anak-anak kurang diberi kebebasan untuk berpikir dan berkreasi, mengembangkan minat dan bakat. Selama ini yang saya tahu, kebanyakan guru selalu memaksakan kehendak kepada siswa, sehingga siswa tidak berkembang dan cenderung seperti robot. Misalnya siswa SD kelas 2 ditanya :"Sebutkan alat transportasi tidak bermesin" si anak menjawab "kuda". Guru bilang salah, yang benar kereta kuda (sesuai dengan kunci jawaban). Guru bertanya: Wisatawan menginap di ...., murid menjawab di losmen. Guru: salah! yang benar sesuai kunci: hotel. Menggambar gunung harus 2 buah, tidak boleh satu gunung. Masih banyak contoh yang lucu-lucu. Jadi yang paling urgen yaitu membuka wawasan guru2 SD dulu, baru meningkat ke strata yang lebih tinggi. Terima kasih. Tanggal: 29/07/2003 |
Nama: Jaslin IKHSAN E-Mail: jikhsan@yahoo.com Saya asal dari DI Yogyakarta dan saya 35 [ P ]. Fakultas saya: FMIPA Kampus saya: UNY Di daerah: Yogyakarta Propinsi: DIY Homepage Kampus: http://www.uny.ac.id/ Saran: Ini adalah yang kedua kalinya saya mendaftar dalam page ini. Semoga tidak membuat Bapak/Ibu bosan membacanya. Pada kesempatan yang kedua ini saya hanya ingin memberitahukan tentang alamat homepage saya, dan mengundang Bapak/Ibu untuk mengunjunginya. Terima kasih. Alamat tersebut adalah: http://www.geocities.com/jikhsan/ Tanggal: 4 Agustus 2003 |
Nama: y.syahbana E-Mail: yuyun0816390737@yahoo.com Saya asal dari BKL dan saya 22 [ p ]. Fakultas saya: ekonomi, tekhnologi informasi Kampus saya: STIE Kerjasama, AMIK BSI Di daerah: yogya Propinsi: yogyakarta Homepage Kampus: http://www.stiekers.ac.id www.bsi.ac.id Saran: PENDIDIKAN ISLAM
Mencetak Pribadi Unggul
Tidak bisa dipungkiri, bahwa kondisi pendidikan di negeri kita saat ini babak belur. Dari sisi SDM misalnya, yang dihasilkan oleh pendidikan kita jauh dari harapan. Saat ini, hampir di seluruh kota-kota besar tawuran antar pelajar, seks bebas, narkoba, dan perilaku rusak lainnya seolah-olah menjadi 'teman karib' para pelajar sekarang. Kepribadian mereka kacau; tidak tersentuh sama sekali nilai-nilai Islam. Memang, ada pelajar-pelajar yang berprestasi dan berkepribadian tangguh, namun jumlah mereka tidak sebanyak pelajar yang 'bermasalah'.
Di tingkat lulusan sarjana, saat ini jumlah penganggurannya sudah diambang angka yang mengkhawatirkan. Jika ini terjadi maka problem sosial baru akan bermunculan. Jika ditanya, apa penyebab utama dari carut-marutnya pendidikan di negeri ini, maka penyebabnya bersifat sistemik, yakni karena diterapkannya sistem pendidikan sekular, dan dicampakkannya sistem pendidikan Islam
. . . . . . . . . . . . ->
Maaf sekali, tetapi saya sudah memotong saran anda. Mohon membaca saran saya sebelah kanan ->
Tanggal: 16/07/2004
|
Y. Syahbana Yth
Maaf sekali, tetapi saya sudah memotong saran anda karena:
1. Sarannya jauh terlalu banyak untuk bagian ini.
2. Anda kelihatnya mencampurkan hal-hal yang tidak begitu berhubungan, misalnya "sistem pendidikan sekular" dan "Kepribadian ... kacau".
Jangan salah, "negara ini kacau karena korupsi", pendidikan dan masa depan bangsa untuk beberapa generasi yang akan datang juga sebagai korban. Saya baru membaca di Jakarta post (pagi tadi Juli 25 - 04) bahwa pemerintah ini kehilangan US$2.400.000.000,00 (US$2.4 Billion - Rp. 22 trilion) selama 2 tahun terakhir ini karena korupsi. Bukan main! Bagaimana kalau uang ini dipakai untuk pendidikan?
Tidak mungkin anak kita dapat belajar moral, biar sistem yang mana saja, selama kita (orangtuanya) masih mau menghormati dan mengurus koruptor (pencuri uang anak kita).
Boleh saya tanya pembaca saran ini, anda sendiri membayar berapa untuk KTP dan SIM anda? Seharusnya berapa? Korupsi merugikan dan merusakkan moral negara ini dari "grassroots". Bagaimana mungkin pendidikan di sekolah dapat mengatasi hal ini?
RE: "Di tingkat lulusan sarjana, saat ini jumlah penganggurannya sudah diambang angka yang mengkhawatirkan."
Mengapa begini?
Biar anak kita punya pendidikan, kalau kita tidak punya koneksi atau banyak uang, mereka tidak akan mendapat pekerjaan yang memuaskan. Nepetisme sangat merugikan SDM di negara ini.
Tambah masalah, koruptor yang sudah mencuri kekayaan negara ini hanya invest uangnya di bank atau beli rumah istimewa, mobil mewa, atau membangunkan Mal, Hotel atau Pertokoan yang tidak begitu menguntungkan negara atau masyarakat Indonesia. Kalau mereka membuka pabrik dan membuat industri yang mungkin dapat mengekspor sesuatu, ini akan memberi pekerjaan dan menguntungkan negara secara ekonomis.
Korupsi adalah musuh negara kita dan moral anak kita. Anak-anak kita belajar moral dari kita dan lingkungan kita (dari contoh-contoh). Hal-hai ini perlu diatasi sebelum kita mulai memikirkan merubah sistem pendidikan.
Salam hormat, Webmaster. RE: Tanggal: 16/07/2004
|
Nama: Yoyon Suryono, DR E-Mail: ysuryo@uny.ac.id Saya asal dari Daerah Istimewa Yogyakarta dan saya 56 [ P ]. Fakultas saya: Fakultas Ilmu Pendidikan Kampus saya: Universitas Negeri Yogyakarta Di daerah: Sleman Propinsi: D.I. Yogyakarta Homepage Kampus: http://www.uny.ac.id Saran: Pendidikan kita perlu membekali para peserta didiknya dengan kemampuan memecahan masalah hidup sehari-hari, bukan kemampuan memilih pilihan jawaban soal-soal pilihan ganda dan sejenisnya. Mereka perlu cerdas dan bisa "hidup", bukan perlu lulus UN. He, he, he... Tanggal: 22/11/2007 |
Nama: ABDUL FATAKH, SHI.,M.hum E-Mail: an_fatth@yahoo.co.id Saya asal dari DI. YOGYAKARTA dan saya 29 [ P ]. Fakultas saya: MAGISTER HUKUM BISNIS Kampus saya: UNIVERSITAS GADJAH MADA Di daerah: SLEMAN Propinsi: DI.YOGYAKARTA Homepage Kampus: http://ugm.ac,id Saran: PENDIDIKAN NASIONAL DI INDONESIA MASIH DALAM KEADAAN YANG MENYEDIHKAN TERUTAMA PERANAN DAN FUNGSUI PENDIDIKAN INPUT DAN OUT PUT BELUM MENYENTUH ESENSI PENDIDIKAN, NAMUN YANG ADA SELAMA INI OUTPUTNYA MENGEDEPANKAN MARKET KAPITALIS ATAU OUT PUTNYA MENJADI BURUH KAPITALISME, MARI BERPIKIR DAN UNTUK MENGENTASKAN KEBODOHAN YANG BELUM BISA LEPAS DARI PEMBODOHAN PADA SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL MENUJU GENERASI BANGSA YANG GAGAH DAN BERWIBAWA DI MATA INTERNASIONAL DAN MENJUNGJUNG TINGGI NILAI-NILAI NASIONALISME PANCASILA. SEHINGGA PENDIDIAKAN KITA BERPERAN DAN BERFUNGSI MEMBANGUN DAN MENATA INFRASTRUKTUR BANGSA YANG MASIH TERBELENGGU PADA PENJAJAHAN IMPREALISME, SEHINGGAAKAN BERDIRI PADA PEREKONOMIAN NASIONALISME YANG TIDAK BERGANTUNGA PADA KAPITALISME BAIK NASIONAL ATAU INTERNASIONAL, NAMUNPADAKAKI RAKYAT DAN BANGSA iNDONESIA SENDIRI. INILAH SEBENARNYA PERAN DAN FUNGSI PENDIDIKAN NASIONAL. Tanggal: 17/07/2008 |